KWT di Lampung Tengah Bagikan Tips Kiat Sukses Tani Milenial dan Peran Kostratani

Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si secara khusus mendatangi Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kampung Liman Benawi, Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah.


Dari Rilis Berita yang dikirim lembaga SMKPP Kupang kepada Pos Kupang, Senin (9/3) disebutkan, lstri Bupati Lampung Tengah yang juga Ketua KWT, Nyonya Elly kepada tim yang juga didalamnya ada peserta dari SMKPP Kupang, menjelaskan soal kehadiran KWT.


Awalnya dipelopori oleh tenaga penyuluh THL untuk menfaatkan tanaman sekitar pekarangan rumah hingga akhirnya mampu menjual hasil produksinya ke 5 pasar di Lampung Tengah diantaranya Punggur, Seputih Raman, Bangun Rejo, Seputih Banyak, Rumbia.


Salah satu anggota KWT menjadi juragan genjer dengan waktu panen 4 kali seminggu dan mendapatkan omset lebih kurang 5 juta per bulan bahkan lebih besar dari gaji golongan III A.


"Kita didik anak kita menjadi mandiri membuka usaha seperti ini jangan kita didik sebagai PNS", kata Elly.


Pada saat bersamaan juga dilakukan teleconference dengan Menteri Pertanian, Dr. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.H atau biasa disebut SYL yang didampingi oleh Gubernur NTT dan tamu dari Rusia. Pada kesempatan tersebut pengurus KWT diajak menyampaikan kegiatannya oleh SYL. Ibu Widami perwakilan KWT menyatakan, Petani merasa puas atas kepedulian dari Kementerian Pertanian untuk memberikan dana dalam mendukung KWT ini.


"Kami KWT sanggup menjalankan program KWT yaitu mencegah stunting di Lampung Tengah pada Tahun 2023 dan meningkatkan kesejahteraan pangan", ujar  Elly.


Menteri Pertanian menyikapi hal ini dengan baik dan mencatat program KWT ini dan oleh menteri memang program harus konkrit. Mentan SYL juga berjanji untuk menurunkan perwakilan dari Ketahanan Pangan untuk mengecek keberlangsungan kegiatan dari KWT ini. Pada hari yang sama, kegiatan dilanjutkan di BPP Lampung. Tak kalah menarik terpapar juga materi kesuksesan petani milenial alumni SMK N PP Lampung Bapak Watlio dalam pengolahan kopi.


"Kita harus fokus pada tujuan juga pasar yang kita jangkau harus sudah ada jika ingin bergulat dalam bisnis", papar Watlio. Watlio memaparkan produk kopi andalannya yaitu Joss Cafee di depan kepala badan, sekretaris badan, penyuluh, pers, dan eselon 2 lingkup BPPSDMP. 


"Janganlah menjadi pegawai tapi jadilah petani", kata Watlio yang juga merupakan alumni IPB.


Kopi yang telah dijual dengan serangkaian proses ini dipatok dengan harga Rp.35.000 per 100 gram. Begitu banyak keuntungan dan potensi yang luar biasa jika kita ingin fokus dalam mengembangkan kegiatan pertanian. Kepala Badan PPSDMP Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr juga menjelaskan peran pertanian adalah menyediakan pangan 260 juta jiwa penduduk Indonesia, mensejahterakan petani, dan meningkatkan ekspor. Kunci dari keberhasilan pertanian adalah meningkatkan produktivitas. Kalau produktivitas 5.2 ton/ha tentu tidak akan mencukupi dikarenakan penduduk Indonesia bertambah 1.4 jt/tahun. BPP dibentuk dari zaman Soekarno, dimana penyuluh berperan membantu petani dalam meningkatkan produktivitas.


"Saat ini dibangun kostratani yaitu komando strategis pembangunan pertanian yang merupakan optimalisasi Balai Penyuluhan Pertanian", papar Dedi.


Hanya saja, katanya, di kostratani BPP diperkuat dengan IT, peningkatan kemampuan penyuluh dengan pelatihan, perbaikan sarana BPP. IT berperan dalam pengelolaan perlu komunikasi antara kostratani, kostrada, kostrawil, kostratan.


"Kostratani merupakan murni optimalisasi BPP tidak ada hubungan dengan politik", tegas kepala badan.


Dikatakannya, kegiatan kostratani untuk seluruh masyarakat. Dulu bertani menggunakan varietas lokal, pemupukan seadanya, pengolahan manual, bahkan pada saat panen penggilingan juga masih konvensional.


"Sekarang ada inovasi inpari 32 di lahan irigasi dengan jalur super mampu menghasilkan 14 ton/ha dengan pemupukan berimbang dan alat bantu modern hal tersebut sesuai dengan motto Kementerian pertanian, yakni maju, mandiri, modern", tegas Kepala Badan dalam menyemangati para hadirin.


Ditambahkannya, dulu petani tanam petik jual kalau sekarang petani harus membuat perhitungan sebelum tanam, dimana harus jual, kapan diual agar harga hasil panennya tidak rendah. Harapan kedepan adalah bagaimana sekolah dan lembaga pendidikan, pelatihan dan penyuluhan dapat bekerja sama dalam membantu petani sehingga mampu menjadi petani milenial.