Manisnya Cavendish oleh Petani Milenial di Tengah Pandemi Covid-19

Dengan adanya pandemi Covid-19, pegawai SMK-PP Negeri Kupang menjalani Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Tidak dipungkiri, ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dalam rumah, sehingga beberapa pegawai menjalani Work From Field alias bekerja dari lahan.

Hal itu salah satunya dijalani oleh Andy Oskar Banamtuan, yang merupakan pembimbing siswa di Asrama Putra “Kelinci”. Tim Humas SMK-PP Negeri Kupang menemui lelaki yang biasa disapa Andy itu sedang merawat tanaman pisang Cavendish yang mulai berbuah.

Pisang Cavendish atau Pisang Ambon Putih adalah jenis pisang dengan panjang rata-rata 15-25 cm. Kulitnya berwarna kuning bersih ketika matang. Pisang ini banyak dijual di supermarket dan disukai pembeli karena rasanya yang manis.

Andy sendiri mengaku membudidayakan pisang Cavendish karena prospeknya yang bagus. Sejumlah 50 pohon pisang Cavendish dibudidayakan di lahan seluas ±500m2. “Budidaya kami lakukan sekaligus untuk memanfaatkan lahan di lingkungan Asrama Kelinci”, terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa budidaya pisang Cavendish ini telah dilaksanakan sejak September 2018. Ia mengaku hanya menggunakan pupuk organik dalam budidaya. Andy juga mengajak 15 siswa yang tinggal di Asrama Kelinci. Hal ini agar siswa-siswa tersebut punya bekal keterampilan budidaya Pisang Cavendish. Waktu senggang siswa-siswa itu pun jadi bermanfaat karena digunakan untuk belajar.

Hingga April 2020, pisang Cavendish tersebut sudah 6 kali panen. Hasil panen yang diperoleh rata-rata ialah 4-7 tandan pisang. Pisang tersebut dijual per kilo dengan harga Rp.8000,00 – 10.000,00. Andy menjelaskan bahwa pisang tersebut biasa dijual kepada Hypermart Kota Kupang atau pelanggan perorangan.

Kiprah Andy dan siswa-siswa SMK-PP Negeri Kupang ini merupakan upaya generasi muda berkarya di bidang pertanian. Seperti yang dikutip dari Republika,  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan bahwa usaha tani sebetulnya sangat menjanjikan. Apalagi jika generasi muda terjun langsung dan memanfaatkan teknologi.

Kepala BPPSDMP (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian), Dedi Nursyamsi juga mendukung, bahwa untuk menarik minat generasi muda, diperlukan pelopor atau duta pertanian. Kementerian Pertanian diketahui telah mengukuhkan 67 duta petani pada Senin (13/4). Duta-duta tersebut diharapkan dapat menarik generasi milenial untuk turut berkarya di bidang pertanian.

Tentu, berkarya tidak terbatas oleh ruang, waktu maupun titel. Tidak harus dikukuhkan menjadi duta pertanian untuk ikut mempelopori regenerasi petani muda. “Yang dilakukan Andy sebetulnya ialah mempelopori regenerasi petani muda juga”, terang Ir. Stepanus Bulu, MP, selaku Kepala SMK-PP Negeri Kupang.

“Sekecil apapun kelihatannya, yang dilakukan tetap berarti dan membentuk rantai manfaat kepada orang-orang di sekelilingnya”, tegasnya.